Arema FC sukses memenangi gelar juara Piala Presiden 2019. Kapten tim Hamka Hamzah meraih penghargaan sebagai pemain terbaik. Sebuah penghargaan besar untuk pemain berusia 35 tahun ini.

Tensi pertandingan final leg kedua Piala Presiden 2019 yang digelar di Stadion Kanjuruhan sempat memanas setelah Amido Balde mengasari bek Arema FC, Arthur Cunha. Belasan tahun lalu, Hamka mungkin akan ikut terlibat dalam situasi panas tersebut, ikut tersulut emosi, dan bisa berlanjut kepada keributan antar pemain.

Tapi Hamka yang kini berada di usia pertengahan tiga puluhan berbeda. Ia tidak reaktif dan lebih tenang. Hamka justru menjadi pemain pertama yang berusaha menenangkan rekan-rekannya. Ia juga melerai ketika ada beberapa pemain Arema yang ikut terpancing emosi dan sudah berhadapan dengan para pemain lawan.

Baca juga: Bungkam Persebaya, Arema Juara Lagi Piala Presiden

Hamka yang dulu dikenal urakan dan mudah terpancing emosi. Kini menjadi pemain yang lebih tenang dan dewasa. Harus diakui bahwa ia adalah sedikit nama dari para pemain yang memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa.

Usia boleh jadi alasan Hamka kini menjadi lebih dewasa dan tenang. Ia sudah bukan lagi pemain muda yang meledak-ledak dan  bisa bertindak asal-asalan. Kini ia merupakan pemain senior dan kapten tim yang mesti menjadi contoh bagi rekan-rekannya yang lain.

Tetapi perjalanan karier Hamka boleh jadi alasan bagaimana ia kini berubah menjadi pesepakbola yang lebih baik lagi.

Masa-Masa Sulit

Setelah sukses membawa Persebaya promosi ke kompetisi level tertinggi saat itu, Divisi Utama. Berlanjut ke Persik Kediri, lalu ke Persija Jakarta di mana kariernya kemudian meroket. Lalu kembali lagi ke Persik Kediri yang kala itu tengah mengusung proyek Los Galacticos di Liga Super Indonesia edisi pertama. Karier Hamka sempat mengalami penurunan.

Setelah Persik Kediri, secara beruntun Hamka hijrah ke tim yang mengumpulkan para pemain bintang. Mulai dari Persisam Putra Samarinda hingga Mitra Kukar. Hamka bahkan sempat bermain di negeri seberang bersama tim Selangor PKNS. Namun sayang selama berkarier di tim-tim tersebut, tidak ada prestasi yang benar-benar signifikan diraih olehnya.

Hamka juga sempat mencoba peruntungan di Persipura Jayapura. Namun kala itu merupakan masa-masa terbaik dari duet Bhio Paulin dan Victor Igbonefo di jantung pertahanan tim Mutiara Hitam. Tidak banyak kesempatan bermain yang didapatkan Hamka di sana. Meskipun ia tetap bisa mengunci satu tempat di timnas Indonesia yang berlaga di Piala AFF 2010.

Bukan sebuah situasi yang benar-benar bagus bagi pemain yang bertanding di level tertinggi namun tidak bisa banyak meraih prestasi yang signifikan. Nama Hamka sempat meredup terutama karena kemunculan para pemain belakang baru yang berusia lebih segar.

Perubahan Serupa Phoenix

Tetapi masa-masa sulit ini juga sepertinya yang kemudian membentuk Hamka menjadi pesepakbola yang lebih baik. Membentu Hamka menjadi pemimpin di lapangan. Pengalaman bermain dan sikap vokalnya banyak membantu Hamka dalam proses perubahan ini.

Terutama sejak tahun 2011, Hamka selalu didaulat menjadi kapten tim kemanapun ia pergi. Mulai dari Mitra Kukar, Borneo FC, Sriwijaya FC, juga ketika bermain untuk tim kampung halamannya, PSM Makassar. Begitu juga ketika bermain bersama PKNS FC. Meskipun bukan kapten tim, Hamka menjadi pemain yang berpengaruh dan disegani.

Baca juga: Rapor Pemain Arema FC Ketika Menangi Leg Kedua Partai Puncak Piala Presiden 2019

Bersama Arema FC, Hamka membuka lembaran baru dalam kariernya. Boleh jadi Hamka kini berada dalam senja kariernya. Tetapi yang bisa terlihat adalah Hamka semakin matang, bahkan menjadi pemimpin di lapangan. Jenis pemain yang agak sulit dicari di sepakbola Indonesia saat ini.

Fenomena yang dialami Hamka sedikit banyak serupa dengan apa yang dialami oleh bek Real Madrid, Sergio Ramos. Meskipun dalam prosesnya sedikit berbeda, Ramos tidak mengalami  masa-masa yang sulit seperti Hamka untuk kemudian berubah menjadi lebih baik.

Ibarat burung phoenix yang bangkit kembali dari abu. Hamka Hamzah berubah menjadi lebih baik setelah mengalami fase sulit dalam masa bermainnya. Ia kini melayang tinggi, dan bisa jadi bersiap untuk mencapai tahapan lain dalam kariernya.

Boleh jadi Hamka bukan pemimpin dengan karisma seperti Bambang Pamungkas, sikap tegas seperti Ponaryo Astaman, atau jiwa pemenang seperti dalam diri Firman Utina. Hamka memiliki cara dan gaya tersendiri dalam kepemimpinannya. Tetapi yang pasti, ia merupakan pemimpin hebat yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Hamka Hamzah, Captain, Leader, Legend.