3 Keuntungan Persebaya Gagal Rekrut Alfred Riedl

Alfred Riedl dipastikan gagal melatih Persebaya Surabaya pada gelaran Liga 1 2019. Faktor kesehatan jadi alasan utama mantan pelatih Timnas Indonesia ini tak bisa menjadi juru racik taktik Persebaya.

Lewat laman resmi Persebaya Surabaya, Alfred Riedl menyebut bahwa dirinya akan menjalani operasi jantung. Sebelumya, Riedl memang sudah diketahui sedang menjalani perawatan soal kesehatan dirinya.

"Saya harus mengabarkan tentang keadaan kesehatan sekarang. Saya telah memeriksakan diri di rumah sakit di Vienna, sekaligus membahas aktivitas saya ke depan. Ternyata, dalam dua pekan saya harus menjalani lagi operasi bypass. Ini kabar buruk buat saya, juga buat Persebaya. Tapi, kesehatan harus saya utamakan,” ujar Alfred Riedl.

 

Baca juga: Resmi: Alfred Riedl Batal Latih Persebaya

 

Gagalnya Riedl menjadi pelatih Persebaya membuat Wolfgang Pikal secara tidak langsung akan mengisi kursi kepelatihan Persebaya. Nantinya Pikal akan dibantu oleh Bejo Sugiantoro sebagai asisten pelatih.

Namun menariknya, jika dilihat lagi, kegagalan Riedl melatih Persebaya ada sisi positifnya. Tim Bola Nusantara coba mengulas keuntungan yang didapat Persebaya setelah Riedl dipastikan gagal mengisi kursi kepelatihan.

1. Kesehatan

Faktor kesehatan akan jadi sangat krusial ketika menunjuk Riedl sebagai pelatih. Sebab, tak cuma kemampuan meracik taktik dan strategi yang dibutuhkan, sang pelatih haruslah memiliki fisik bugar.

Bayangkan saja ketika kondisi Riedl yang sekarang harus mendampingi skuat Persebaya untuk melakukan laga tandang. Maklum, secara geografis, Indonesia terdiri dari berbagai pulau yang membuat perjalanan tandang pasti sangat melelahkan.

Andai saja Riedl tetap melatih Persebaya dengan kondisi kesehatannya saat ini tentu akan sangat berat bagi dirinya. Belum lagi ketika dia harus bolak-balik mengecek kesehatannya.

Bisa jadi jika ini terjadi maka Persebaya akan lebih sering ditinggal oleh Riedl di pinggir lapangan. Memang dalam sepak bola modern, taktik dan strategi bisa didelegasikan kepada asisten pelatih. Namun tetap saja, kehadiran sosok pelatih kepala di pinggir lapangan akan sangat berguna bagi para pemain yang berlaga.

2. Miskin Taktik

Nama Alfred Riedl lebih banyak dikenal di Indonesia sebagai pelatih Timnas Indonesia. Jarang sekali, Riedl memutuskan untuk melatih sebuah klub di Indonesia.

Satu-satunya klub di Indonesia yang pernah meminang Riedl adalah PSM. Itu pun tidak lama. Hanya sekitar empat bulan Riedl berstatus sebagai pelatih Juku Eja sebelum akhirnya memilih mundur karena alasan kesehatan.

Nah kembali ke Timnas Indonesia, sentuhan Riedl di Garuda memang sempat membuat decak kagum. Walau tak ada piala yang dipersembahkan, tetap saja gaya main Timnas saat itu begitu dicintai.

 

Baca juga: Jelang Hadapi Timnas Indonesia, Vietnam Segera Naturalisasi Kiper Eropa

 

Namun jika dilihat lagi, taktik yang diterapkan Riedl tampak sangat monoton. Dia selalu memakai skema formasi 4-4-2. Pilihan pelatih asal Austria tersebut menerapkan pola konservatif tersebut dipandang tidak mengherankan. Alfred yang lahir 2 November 1949 dipandang generasi pelatih old fashion, yang cenderung kaku dalam pemilihan taktik permainan.

Tidak banyaknya pilihan taktik yang fasih dipakai oleh Riedl tentu sangat tidak menguntungkan bagi Persebaya. Dalam sistem kompetisi panjang, alternatif taktik sangat penting. Sebab, para calon lawan pasti akan mempelajari kelemahan dari gaya main dan taktik Persebaya nantinya.

3. Sudah Lama Menganggur

Faktor kesehatan tampaknya menjadi penghambat terbesar Riedl dalam karier kepelatihannya. Bagaimana tidak? Riedl harus menepi dari dunia si kulit bundar selama tiga tahun terakhir.

Riedl terakhir melatih ketika menjadi pelatih Timnas Indonesia pada 2016. Tidak diketahui memang, apakah selama menepi Riedl tetap mengikuti perkembangan sepak bola di Indonesia maupun dunia.

Pasalnya dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan sepak bola modern bergerak cepat, khususnya dalam dunia taktik. Lihat saja beberapa tahun ini, sepak bola dunia bahkan disuguhkan perang taktik.

 

Baca juga: Demi Tiket Piala Asia U-19, Fakhri Berlakukan Promosi dan Degradasi

 

Skema formasi 4-2-3-1, 4-4-2 hingga 3-4-3 sempat jadi andalan beberapa klub top dunia. Nah lantas kenapa ini bisa jadi masalah Riedl saat melatih Persebaya?

Jawabannya adalah perkembangan jaman. Jika saja Riedl masih menganut gaya melatih old fashion tentu kemungkinan bisa dilahap oleh para pelatih muda yang kaya taktik dan strategi.

Belum lagi, kelamaan menganggur membuat Riedl harus mengembalikan lagi sentuhannya dalam melatih. Dia harus beradaptasi lagi dengan jadwal padat dan tekanan dari segala arah.

Note: Ayo Mainkan, menangkan, kumpulkan poin sebanyak-banyaknya dan rebut hadiah keren dengan hanya memainkan Game Seru Bola Nusantara! Caranya Download dulu aplikasinya di sini

 

Berita Terkait