Milomir Seslija Soroti Budaya Pecat Dini di Indonesia

Milomir Seslija memberikan komentar yang tidak biasa terkait pemecatan Djadjang Nurdjaman oleh manajemen Persebaya Surabaya. Alih-alih merasa diuntungkan dengan kondisi tersebut, Milo justru melontarkan kritik terhadap kebiasaan klub yang gemar menggonta-ganti pelatih di tengah kompetisi berlangsung.

Djadjang Nurdjaman resmi diberhentikan sesaat setelah Persebaya ditahan imbang Madura United 2-2 beberapa hari lalu. Pelatih asal Majalengka tersebut dinilai gagal membawa prestasi untuk Bajol Ijo.

Baca juga: Kekurangan Pemain, Arema Paksakan Penyerang Sayap Jadi Bek

Di atas kertas, Djanur tidak bisa sepenuhnya dicap buruk. Sebab mantan pelatih Persib Bandung tersebut sukses membukukan empat kemenangan, enam hasil seri, dan hanya tiga kali merasakan kekalahan di musim ini. Selain itu Djanur juga menjadikan Persebaya sebagai salah satu tim paling produktif dengan torehan 20 gol dari 13 pertandingan. Namun semua data tersebut belum cukup memenuhi harapan manajemen dan Bonek Mania.

Kasus pemecatan pelatih ini sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Pada putaran pertama musim 2019 saja sudah ada 16 pelatih yang menjadi korban, dimana delapan di ataranya berasal dari tim Liga 1. Hal ini menandakan pemecataan pelatih sudah menjadi kebiasaan yang majemuk.

Sebagai pelatih, Milo tentu tidak bisa membenarkan fenomena ini. Pelatih asal Bonsia tersebut menilai pelaku sepak bola Indonesia kurang bisa sabar dan cenderung suka hasil instan. Padahal sebagai orang yang sudah makan asam garam, Milo tahu betul jalan panjang yang harus ditempuh.

Baca juga: Jelang Lawan Persebaya, Arema FC Masih Dihantui Cedera Pemain

“Di Indonesia hal ini tidak bisa menjadi solusi. Mungkin ada positive shock kepada pemain, namun hal tersebut tidak bertahan lama. Kita bisa lihat terkadang pergantian pelatih tidak membuat perubahan,” ungkapnya.

“Saya bisa katakan di Indonesia mereka memperlakukan hal ini dengan salah, pelatih mungkin melakukan kesalahan, namun hasil butuh proses. Semua pelatih membutuhkan waktu” imbuhnya.

“Orang-orang berfikir pergantian pelatih akan membawa hal baru, tapi nyatanya tidak. Pergantian pelatih artinya taktik baru dan juga proses adaptasi yang baru,” tandasnya.

 

Berita Terkait