Cerita Panasnya Rivalitas Persib dan PSM di Era Perserikatan

Persib Bandung akan menjamu PSM Makassar di pekan ke-10 Liga 1 2018. Laga yang akan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Rabu (23/4) itu merupakan salah satu laga klasik di pentas sepakbola Indonesia.

Status Persib dan PSM sebagai klub legendaris di sepakbola Indonesia menjadi alasan bentrokan keduanya disebut laga klasik. Selain itu sejak 1959 hingga 1990-an kedua kesebelasan pun sering terlibat dalam pertarungan sengit dalam perebutan gelar juara di Kompetisi Persrikatan. Tercatat empat kali Persib dan PSM bentrok di laga final Perserikatan (1959, 1961, 1966, dan 1993/94) dengan hasil kedua kesebelasan saling mengalahkan.

Rivalitas Persib dan PSM mulai bergaung di musim 1959/60. Saat itu Persib dan PSM bersaing sengit memperebutkan gelar juara nasional. PSM yang merupakan tim juara bertahan, menantang Persib di laga penentuan yang belangsung di Stadion Ikada, Jakarta. Harapan publik sepakbola nasional kala itu bertumpu pada Persib yang diharapkan mampu menghentikan dominasi Juku Eja di pentas sepakbola nasional. Tapi harapan tak berbuah nyata, karena Persib takluk 2-1.

Di musim berikutnya, 1961, Persib dan PSM kembali bersua dalam pertandingan Kejuaraan Nasional (Perserikatan) di Stadion Mattoangin. Laga yang disaksikan sekitar 50 ribu pasang mata itu berlangsung sengit. Maklum, Persib datang dengan dendam yang membara setelah takluk di final Perserikatan 1959/60. Sementara PSM tentu tak mau dipermalukan di hadapan pendukungnya sendiri. 

Laga tersebut berlangsung sengit, jual beli serangan terjadi. Persib mencuri gol lebih dulu melalui Omo Suratmo yang kemudian dibalas PSM di menit ke-38. Alotnya laga, membuat skor 1-1 bertahan hingga laga memasuki menit ke-80.

Hingga pada menit ke-85, wasit Kuntadi memberikan penalti kepada Persib. Kuntadi yang kala itu memiliki reputasi sebagai wasit terbaik Indonesia menganggap terjadi pelanggaran handball saat duel udara antara pemain Persib dan PSM di kotak penalti Juku Eja.

Sontak, keputusan tersebut diprotes pemain PSM. Suasana tak kondusif pun membuat laga dihentikan di menit ke-84, dengan skor 1-1. Kejadian tersebut, kemudian dikenal sebagai tragedi Kuntadi atau tragedi Mattoangin.  

Pada 24 Juni 1961, melalui keputusan Kogor Pusat, laga antara Persib dan PSM yang terhenti diputuskan akan dilanjutkan, bila hasil laga tersebut akan memengaruhi posisi Persib yang merupakan pemuncak klasemen. Tapi, karena di laga selanjutnya PSM bemain imbang 3-3 dengan Persebaya dan Persib menang 3-1 atas Persija, maka laga antara Persib dan PSM yang terhenti pun tak dilanjutkan.

Pasalnya, dengan hasil tersebut posisi Persib tak tergoyahkan di puncak klasemen. Maung Bandung kemudian menggondol trofi juara kedua mereka di era Perserikatan. 

Seiring berjalananya waktu, panasnya rivalitas Persib dan PSM kemudian memuncak di medio 1990-an. Gengsi yang tersaji kala kedua tim bertemu, membuat bentrokan Persib dan PSM kerap berlangsung dalam tensi tinggi. Tak jarang perkelahian antarpemain pun terjadi di lapangan. Salah satunya terjadi di semifinal Perserikatan 1990.

Laga yang berkesudahan 3-0 untuk Persib itu diwarnai kericuhan antarpemain yang membuat laga sempat terhenti selama 15 menit. Di pertandingan tersebut, sejak awal PSM sudah memeragakan gaya permainan keras menjurus kasar.

Hingga kericuhan pun terjadi saat bek kiri Persib, Ade Mulyono mendapat terjangan keras dari pemain PSM Anshar. Ade langsung terpancing emosinya, aksi dorong-doroangan terjadi hingga akhirnya baku hantam pun tak terelakan. Suasana mereda setelah aparat kepolisian turun tangan untuk melerai perkelahian.

Tak lama kemudian, kericuhan kembali terjadi. Kali ini, wasit yang menjadi sasaran amukan pemain PSM yang tak puas karena kartu kuning yang diberikan kepada Anshar yang menekel keras Ade Mulyono. Kembali, aparat keamanan harus turun tangan menetralisir keadaan.

Dilansir dari buku 'Persib Under Cover', imbas dari kericuhan tersebut membuat PSSI menjatuhi sanksi berat kepada empat pemain PSM; Hasanudin Baso (larangan setahun bermain), Anshar, Basri (larangan lima tahun bermain), dan Alimuddin (larangan enam bulan bermain).

Empat tahun berselang, Persib dan PSM kembali bersua. Tepatnya di laga final yang berlangsung di Stadion Utama Senayan. Dalam laga tersebut, Persib menang dua gol tanpa balas atas PSM melalui gol Sutiono Lamso dan Yudi Guntara.

Bagi Persib, kemenangan tersebut bukan saja membalas kekalahan mereka di final Perserikatan 1966. Lebih dari pada itu, keberhasilan tersebut pun menjadikan Maung Bandung sebagai jawara abadi kompetisi Perserikatan. Karena selepas itu, wajah kompetisi sepakbola Indonesia berganti menjadi Liga Indonesia, setelah meleburnya kompetisi Perserikatan dan Galatama.

Berita Terkait